Oleh: Alfath Bagus Panuntun Elnur Indonesia, Mochamad Ridha, Alif Fadhiyah Chairunnisa

Assalamu’alaykum wr.wb.

Segala puji hanya milik Allah SWT, asma terindah, yang telah menurunkan kitab suci Al Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Selawat teriring salam senantiasa tercurah kepada Uswatun Hasanah kita, Nabi besar Muhammad SAW, yang telah menjadi pemimpin, da’i pembaharu, dan panutan terbaik sepanjang masa, serta pembawa risalah kebenaran bagi seluruh alam.

Dalam artikel berjudul “Kebebasan”, Nurcholis Majid berpandangan bahwa manusia itu merupakan “jagad kecil” yang mampu dijadikan sebagai cermin atas “jagad besar”. Secara sederhana, Nurcholis menilai manusia mampu untuk merepresentasikan atau mencerminkan seluruh jagad atau alam semesta.

Pandangan di atas bila dicermati mirip dengan konsepsi “Manusia Sempurna” (Insan Al Kamil) milik Ibn Arabi yang bertolak dari pandangan bahwa Allah berkehendak untuk dikenal dan melihat citra diri-Nya. Untuk itu Allah SWT menciptakan alam semesta sebagai manifestasi nama-nama dan sifat-sifatnya. Namun, alam semesta pada kenyataannya merupakan wujud yang terpisah sehingga tidak akan pernah sanggup merangkai dan merampungkan citra Allah SWT yang Maha Sempurna dan utuh.

Manusia sebagai ciptaan Allah SWT yang paling sempurna memiliki potensi untuk menjadi Manusia Paripurna, yakni manusia yang mengandung sifat dan akhlak Allah SWT yang sempurna. Namun, harus diingat, kesempurnaan manusia tentu sangat berbeda dengan kesempurnaan milik Allah SWT yang mutlak.

Manusia untuk bisa merepresentasikan seluruh jagad besar dan mencapai titik kesempurnaan itu pertama-tama dikenalkan dan diberitahu berbagai macam nama (objek) yang terdapat dalam alam semesta. Disaat yang bersamaan, manusia juga diberikan akal untuk menimbang mana baik dan buruk, serta nafsu yang dengannya tercipta hasrat dan gairah untuk kehidupan yang lebih dinamis. Semua itu merupakan bekal bagi manusia untuk menghadapi penugasan dari Allah SWT, yakni memakmurkan bumi dengan menyandang label sebagai “khalifah”.

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 30 :

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al Baqarah ayat 30)

Dari ayat di atas, kita bisa melihat hadirnya dua pandangan. Pertama, Allah SWT dengan pandangan optimistik akan potensi manusia untuk memakmurkan bumi. Kedua, pandangan para malaikat yang pesimistik terhadap manusia karena akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.

Di sini, kita bisa menilai bahwa Allah SWT sebagai pemilik alam semesta menitipkan pesan dan harapan yang begitu besar kepada manusia. Allah SWT tahu betul bahwa manusia itu ibarat dua mata pisau (positif dan negatif), tetapi pandangan optimistik pada kenyataannya Allah SWT tunjukkan. Sebab Dia-lah yang Maha Mengetahui apa yang ada dilangit dan dibumi. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam QS. Al Ankabut ayat 52:

وَالْأَرْضِ لسَّمَاوَاتِ فِي مَا يَعْلَمُ شَهِيدًا وَبَيْنَكُمْ بَيْنِي بِاللَّهِ كَفَىٰ قُلْ

Artinya: Maka, “Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi.”  (QS. Al Ankabut ayat 52)

Hal di atas telah menegaskan posisi Allah SWT terhadap kemanusiaan kita. Lalu, pertanyaan: Jika Allah SWT yang Maha Mengetahui dapat menaruh harapan yang begitu besar kepada manusia, lantas mengapa kita sebagai manusia tidak bisa menaruh harap dan rasa saling percaya akan satu dengan yang lainnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, hal yang utama ialah kita harus meyakini bahwa manusia memiliki semangat optimis dan bervisi maju. Pandangan optimis tentang manusia berakar pada karakter asasi manusia yang dalam dirinya berpotensi positif, hidup lurus, cenderung kepada kebaikan dan kebenaran, serta menolak hal-hal bersifat buruk. Hanya saja kemudian lingkungan tempat tinggal, pergaulan, dan pola asuh perlu mendapatkan perhatian serius. Sederhananya, semua ini berkaitan dengan proses mendidik.

Mendidik bukan sekedar mengajarkan baca, tulis dan berhitung. Mendidik dalam Islam adalah mengajarkannya dengan aqidah yang lurus, seperti pesan Luqman terhadap anak-anaknya dalam surat Luqman ayat 13, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.

Bilamana aqidah seseorang telah lurus dengan menghamba hanya kepada Allah SWT, maka dapat dipastikan kebaikan selalu menyertainya. Semua akan mudah diketahui dari kesehariannya. Baik buruknya ibadah seperti shalat dapat diukur melalui perilaku, tindakan, dan perkataannya sehari-hari. Akan sangat tidak dimungkinkan orang mengaku dirinya baik tetapi perangainya tidak mencerminkan nilai-nilai Ketuhanan. Sehingga, dalam hal ini, lembaga pendidikan tentu saja memiliki andil besar untuk memperbaiki diri, karakter dan potensi dasar kebaikan, selain daripada keluarga. Dalam hal ini, Fisipol UGM harus bisa menjadi tempat bagi para civitas akademikanya dengan mengedepankan nilai-nilai optimistik yang mencerminkan nilai-nilai Ketuhanan.

Dengan itu, kita semua tidak perlu merasa apriori melihat orang lain. Tidak memandang rendah kemampuan orang lain. Tidak mudah menjustifikasi buruknya orang lain hanya karena kesalahan noda setitik. Tidak menutup hati dari permohonan maaf atas kealpaan orang-orang disekitar kita. Kita seharusnya bisa mewujudkan “Kemanusiaan Yang Optimistik”, yakni kemanusiaan yang bukan sekedar jargon dimulut atau tulisan belaka, tetapi kemanusiaan yang mampu mengangkat derajat dan martabat kita sebagai manusia. Kemanusiaan yang memancarkan nilai-nilai Ketuhanan. Kemanusiaan yang tidak perlu melihat mayoritas dan minoritas. Sederhananya ialah kemanusiaan yang dapat ditampilkan dan diimplementasikan dalam praktiknya kehidupan melalui sikap spiritualitas dan emansipatoris yang peduli, empati, dan hanya menghamba kepada Allah SWT.

Dari beberapa hal yang sudah dipaparkan di atas, kita harus menyadari bahwa semua orang punya potensi dan kehebatannya masing-masing. Semua orang bisa merasakan dirinya baik, manfaat dan berguna bagi sesamanya, tentunya dengan Islam sebagai cara pandang dan jalan hidup kita.

Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi manusia yang lebih baik ke depan dengan mewujudkan kemanusiaan yang optimistik. Aamiin

Wassalamu’alaykum wr.wb.

 

(Sumber: Buletin Jum’at Al-Fatih JMF UGM edisi 01, terbitan 2 September 2016)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *