Garis Besar Isi Padepokan Al-Arqam Season 2
Episode “Pandangan Islam tentang Demonstrasi”
pada Kamis, 18 Mei 2017 pukul 16.00 s.d. 17.30 di Mushola Mandiri Fisipol UGM

1. Demonstrasi pada dasarnya merupakan alat perjuangan dalam kerangka amar makruf nahi munkar. Amar ma’ruf nahi munkar adalah bagian prinsip dari agama, tapi yang harus digarisbawahi adalah al-ma’ruf berada dalam konteks lokal, sedangkan al-khoir berada dalam hal universal. Al-ma’ruf tujuannya adalah kemashlahatan dan memperlihatkan konteks lokalitas. Dalam memperjuangkan Al-ma’ruf harus melalui beberapa kriteria. Pertama, harus memastikan apakah hal yang akan kita perjuangkan itu masih sesuatu yang dapat diperdebatkan atau tidak, apabila hal tersebut telah mencapai hal hakikat maka harus diperjuangkan. Kedua, dilanjutkan dengan memastikan apakah kemashlahatan itu kemashlahatan publik atau kemashlahatan golongan/kelompok. Ketiga, lalu dilanjutkan dengan pengkajian mengenai substansi. Apabila telah memenuhi hal tersebut bisa diperjuangkan.

2. Ada beberapa prosedur yang harus dilakukan dalam proses advokasi kebijakan menurut Islam yaitu : Pertama, Melakukan Uji Materi, mengkaji apakah kemashlahatan itu masih debetable, dan dilanjutkan dengan mengkaji apakah itu masalah publik atau masalah privat. Kedua, memastikan implikasi yang akan muncul dari proses perjuangan yang akan dilakukan. Apabila dampak negatif yang muncul lebih besar dari kemashlahatan yang muncul lebih besar, maka perjuangan harus dipertimbangkan lagi. Ketiga, dari segi metologi ada beberapa hal yang dilakukan yaitu : 1) Menyampaikan pesan/wasiat kepada pemimpin secara rahasia, seperti surat, kotak keluhan,dll; 2) public hearing; 3) Apabila kedua hal di atas tidak bisa dilakukan baru boleh melakukan demonstrasi.

3. Demonstrasi boleh dilakukan hanya jika tidak memunculkan ancaman kerusakan yang lebih besar. Apabila kemashlahatan yang diperjuangkan masih debetable, maka demonstrasi itu tidak dianjurkan untuk dilakukan. Keyakinan, pengkajian, serta pertimbangan mendalam mengenai akibat yang muncul dari demonstrasi yang akan dilakukan. Namun pendekatan normatif ini juga perlu diikuti dengan pendekatan multianalasis terutama aspek historisitas, struktural, dan domino effects yang akan muncul. Jadi penggunaan studi perbandingan juga menjadi hal sangat penting dalam mengkaji apakah demonstrasi itu boleh dilakukan. Pertimbangan bahwa demonstrasi juga tidak akan membahayakan pelakunya juga perlu dilihat. Demonstrasi pada dasarnya hanyalah alat bukanlah substansi dari perjuangan itu sendiri.

Untuk penjelasan lebih lanjut dapat didengarkan di : https://drive.google.com/open?id=0B-RO9BMct2KNM1c0d19RNGoydXc

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *