Episode “Generasi Muda dan Praktik Jihad dalam Kehidupan”
Jumat, 25 Agustus 2017 Pukul 16.00 s.d. 17.30 di Mushola Mandiri Fisipol UGM

Majelis ta’lim seperti kajian seperti ini maupun kuliah di dalam kelas yang saudara hadapi adalah sama dengan menuntut ilmu dengan spirit Islam, apabila diikuti dengan niat, ikhlas, dan istiqomah. Apa yang Anda pelajari baik di dalam kelas maupun kajian seperti ini adalah sebuah dorongan ilmiah yang insyaallah memiliki keunggulan ganda baik bagi kepentingan duniawi, lebih-lebih ukhrawi. Apa yang kita pelajari di dalam kelas pun seperti teori politik dan lain-lain sangat ada hubungannya dengan bingkai keIslaman. Semua perkembangan dunia ilmu pengetahuan sendiri awalnya berkembang dari khazanah Islam, lalu banyak dikembangkan oleh orang Barat dan kemudian mereka menemukan “gaya” mereka sendiri. Sayangnya kita mengikuti gaya mereka, dan mengurangi literatur dari sudut pandang Islam – sebut saja tulisan Muqaddimah dari Ibnu Khaldun.

Berbicara mengenai jihad, di dalam Al-Qur’an setidaknya terdapat 20-an pembahasan mengenai hal tersebut. Salah satunya di dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 6-7. Ayat 6 yang memiliki arti:

“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

memiliki intisari: (Dan barang siapa yang berjihad) maksudnya jihad fisik atau jihad nafsi (maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri) karena manfaat atau pahala dari jihadnya itu kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah. (Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari semesta alam) yaitu dari manusia, jin dan Malaikat, dalam arti kata Dia tidak memerlukan sesuatu pun dari mereka, juga Dia tidak membutuhkan ibadah mereka kepada-Nya. Ayat 7 yang memiliki arti,

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”

memiliki intisari: (Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka) melalui amal-amal saleh yang mereka lakukan (dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik) di-nashab-kannya lafal ahsana karena huruf Jar-nya dibuang, makna yang dimaksud daripadanya ialah pahala yang baik (dari apa yang mereka kerjakan) yakni, dari amal-amal saleh mereka.


Penjelasan lebih lanjut dapat didengarkan di: https://drive.google.com/open?id=0B-RO9BMct2KNZlRrVHpSdFZSU3M.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *