Assalamu’alaykum wr.wb.

Segala puji hanya milik Allah SWT, asma terindah, yang telah menurunkan kitab suci Al Qur’an sebagai pembentuk hati yang bersih dan pribadi yang bertakwa. Selawat teriring salam senantiasa tercurah kepada Uswatun Hasanah kita, Nabi besar Muhammad SAW, yang telah menjadi pemimpin, da’i pembaharu, dan panutan terbaik sepanjang masa, serta pembawa risalah kebenaran bagi seluruh alam.

 

Sesuatu yang sangat penting bagi Muslim, sehingga ia bisa dibedakan dari muslim yang lainnya adalah berkaitan dengan kepribadian. Kepribadian yang baik hanya dapat terbentuk dari hati yang sehat serta kebersihan perilakunya. Hal ini sangat menolong kita semua kelak di hari akhir, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Asu Syu’araa’ ayat 88-89:

Artinya: (yaitu) Pada hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna (88) kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (89)

Bahkan, iman seseorang bisa pula tidak lurus kecuali hanya jika bermuara dari hati yang sehat dan perilaku yang bersih. Hal ini seperti yang disampaikan Rasulullah SAW bahwa, “iman seorang hamba itu tidak akan lurus sebelum hatinya lurus.”

Dalam hadist yang lain juga disebutkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ لْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka semua tubuh akan baik; jika ia rusak, maka rusaklah semua tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Muslim)

Dari ketiga dalil yang disampaikan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa hati merupakan pusat kedamaian manusia. Ia menjadi sumber kebaikan tatkala manusia itu berusaha melaksanakan amal kebaikan. Dengan kesehatan dan kebersihan yang bersemayam di dalam diri, pembawaan perilaku seseorang menjadi lurus. Sikapnya santun, perkataannya lemah lembut, hatinya memancarkan kasih sayang, hidupnya bersahaja, ucapannya mengandung kejujuran, kepentingan umum ditempatkan di atas kepentingan pribadi, serta memiliki rasa empati terhadap orang lain. Hal-hal tersebut meniscayakan pahala yang berlimpah ruah.

Bukan hanya pahala, kembali ke awal, pada kenyataannya hati juga yang membentuk satu kepribadian yang “asyik dan bergairah”. Apa itu kepribadian yang asyik dan bergairah?

Kepribadian yang asyik dan bergairah adalah kepribadian yang mendatangkan banyak orang disekeliling kita bukan untuk tunduk pada perintah atau otoritas yang kita punya. Bukan juga kepribadian yang menebarkan ketakutan atau ancaman pada sekelilingnya. Tetapi, kepribadian ini ialah kepribadian yang memiliki banyak teman dalam lingkaran kebaikan. Kepribadian yang membuat setiap orang merasa dirinya tenang-menenangkan dan senang-menyenangkan. Kepribadian yang mengangkat hati dan martabat orang lain. Kepribadian yang memiliki ghirah atau semangat membantu yang lemah. Sederhananya, kepribadian ini merupakan kepribadian yang memancarkan nilai ketuhanan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bayangkan, ketika kepribadian yang asyik dan bergairah itu ada padamu membuat dan menjadikan hatimu lurus, perilakumu bersih, pikiranmu jernih, pembawaanmu tenang, perkataanmu menyenangkan, dan hidupmu manfaat bagi orang lain, maka sudah barang tentu membuat dirimu berada di antara orang-orang baik.

Maka tugas kita untuk dapat menjadikan pribadi ini menjadi pribadi Muslim yang asyik dan bergairah adalah dengan pertama-tama, meyakini bahwa kita sebagai makhluk yang lemah, sehingga membutuhkan satu konsep “refleksi dan proyeksi” yang berlandaskan asas spiritual. Sederhananya, refleksi berarti mampu menilai kadar lebih dan kurangnya diri, sedangkan proyeksi ialah upaya perbaikan diri dengan berkaca pada proses refleksi. Hal ini sangat penting, terlebih dilingkungan Fisipol UGM untuk menumbuhkan sikap sadar dan mawas diri.

Kedua, perlulah kiranya kita membentuk suatu inner circle yang di dalamnya terdapat orang-orang yang saling menasihati dan mengajak pada kebaikan, serta mengadakan perdamaian. Dan ingatlah tatkala Allah SWT berfirman dalam QS. An Nisa ayat 114:

 

Artinya: ”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”

Tentu saja, ayat di atas merupakan peringatan bagi orang-orang yang senang menabur kebencian dan berita gembira bagi penyeru kebenaran. Dalam hal ini, kritik seolah menjadi tameng. Tentu saja, sebagai mahasiswa Fisipol, menjadi kritis dan menyampaikan kritik adalah salah satu manifestasi atas pembelajaran akademik dibangku perkuliahan. Namun sayangnya, dalam perkuliah jarang sekali membahas tentang etika dan moral, dalam Islam diajarkan tentang adab. Maka, kiranya perlu lah bagi kita untuk mempelajari adab. Dan adab dapat terbentuk, salah satunya, melalui inner cirlce yang berisikan orang-orang yang saling menasihati dalam kebaikan.

Terakhir, dengan menanamkan semangat spiritualitas dan emansipasi yang hendak dibawa oleh kepribadian Muslim. Kita bisa mengatakan, “jika belajar itu adalah ibadah, maka berprestasi adalah dakwah”. Dari kalimat tersebut, ada satu semangat spiritualitas di mana ketika kita mengabdikan waktu untuk mencari ilmu pengetahuan, orientasi yang dituju semata bukan untuk kepuasan diri sendiri, melainkan untuk mengharap ridha Allah SWT. Kemudian, ukuran berhasil atau tidaknya belajar kita dapat diukur melalui prestasi, entah dengan bentuknya yang beragam itu.

Dengan ketiga langkah untuk meraih kepribadian yang asyik dan bergairah ini, orang lain takkan gentar mendekatimu untuk sekedar bercanda, bersenda gurau, dan meminta pertolonganmu. Orang lain akan menaruh rasa hormat dan segan atas keteguhan nurani bersihmu. Beda halnya ketika pribadimu berlaku keras, kerap berbuat zalim, dan hanya bisa berkata tanpa pernah berbuat. Orang akan malas mendekati, punya teman seadanya, dan hanya itu-itu saja, terlebih tak mendapat pahala dan ridha dari Allah SWT.

Maka, sebagai Muslim, jadikanlah kepribadianmu sebagaimana “asyik dan bergairah” itu. Kepribadian yang mendatangkan rasa gembira dan sukacita pada orang banyak. Kepribadian yang menolak rasa takut dari manusia bermental tiran. Kelak, masa depan Islam dan dunia yang bahagia itu bergantung pada sikap pengasih dan penyayang kita saat ini.

Mari kita semua, secara bersama-sama, membentuk kepribadian Muslim yang asyik dan bergairah bersama kami, di Fisipol dan UGM.

Wassalamu’alaykum wr.wb.

 

Tim Penulis:

Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia

Alif Fadhiyah Chairunnisa

Mohammad Ridha

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *