Oleh: Sri Harjanto Adi Pamungkas (Manajemen Kebijakan Publik 2016, staf biro Intelektual Muda FISIPOL)

Pernah ada masanya ketika Romawi di sisi Barat dan Persia di sisi Timur membangun sebuah tatanan dunia dengan dua kekuasaan hegemonial yang adikuasa di dunia. Romawi dan Persia menjadi dua kekuatan tangguh masa itu. Dua kekuatan ini memiliki kemampuan militer yang bisa dibilang paling maju memang pada masanya. Oleh karena itu, dua kekuatan besar ini begitu digdaya diatas kekuatan-kekuatan lainnya. Inilah era hegemoni militer.

Tepat di tengah dua kekuatan besar hegemonial dunia (Romawi dan Persia) saat itu muncul sebuah kekuatan baru. Dideklarasikanlah sebuah negara di kota Madinah oleh Muhammad Bin Abdullah waktu itu. Negara kecil ini lambat laun terus membesar hingga mampu mencapai kejayaannya yang berlangsung begitu lama. Negara yang memulai sejarahnya dari sebuah wilayah kecil di Madinah ini pun berubah jadi kekuatan hegemonial dunia. Era ini merupakan era hegemonial konsep ukhuwah dalam islam yang menyatukan manusia-manusia yang pada dasarnya terlahir berbeda baik ras, golongan, dan perbedaan-perbedaan lain dalam sebuah rasa persaudaraan. Ukhuwah inilah yang memacu perkembangan umat islam waktu itu hingga bisa menjadi kekuatan hegemonial dunia. Islam menjadi kekuatan yang begitu lengkap sisi hegemonialnya, baik dari sisi kenegaraan, teknologi, hingga militer, ekonomi juga kemasyarakatan.

Ditutupnya perairan penghubung antara Eropa dan Asia membuat bangsa Eropa mulai mencari jalan baru guna mendapatkan barang dagangan. Upaya mereka tidak sia-sia karena mereka menemukan wilayah-wilayah baru yang begitu kaya dan menggiurkan. Eropa waktu itu baru saja bangkit perlahan-lahan dari masa kelamnya, the dark age, masa di mana dunia dikuasai oleh peradaban Asia, dan Eropa tenggelam dalam masa kegelapannya. Setelah penemuan wilayah-wilayah baru ini, bangsa-bangsa Eropa mulai menggunakan kekuatan-kekuatan militer mereka untuk melakukan penguasaan (pada awalnya bangsa Eropa hanya berdagang). Penguasaan ini kemudian melahirkan imperialisme dan kolonialisme. Bangsa-bangsa Eropa melalui imperialisme dan kolonialisme ini memperoleh keuntungan yang luar biasa besar karena mereka dapat mengeruk kekayaan alam negeri kolonial. Kemudian hasil rampasan di negara-negara kolonial ini dibawa pulang ke Eropa da dijadikan modal untuk membangun negaranya sendiri. Akhirnya, dengan modal dari rampasan tadi bangsa Eropa dapat membangun peradabannya. Dibarengi oleh kebangkitan intelektual Eropa yang dimulai dengan renaissance akhirnya bangsa Eropa meraih era hegemonialnya. Meruntuhkan hegemoni Asia. Ini adalah era hegemoni imperialisme dan kolonialisme.

Setelah itu, era hegemoni terus berubah, mulai dari era hegemoni militer, era hegemoni kapital, hingga era hegemoni teknologi. Tiga paragraf di atas sebenarnya hanyalah cerita pengantar dari topik utama yang akan dibahas, yaitu tentang era hegemoni baru. Apa era hegemoni baru ini? Sebelum masuk ke sana mari kita bahas dulu tentang apa itu hegemoni. Teori tentang hegemoni pernah dikemukakan oleh Gramsci. Menurut Gramsci (dalam Kurniawan), suatu kelas menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya melalui dua cara, yaitu kekerasan dan persuasi. Cara kekerasan disebut dengan dominasi, sedangkan cara persuasinya disebut dengan hegemoni. Pada era-era sebelumnya, hampir selalu ada kombinasi antara dominasi dan hegemoni ini bila kita menggunakan pisau analisis Gramsci.

Era dewasa ini merupakan sebuah era hegemonial baru. Era hegemoni kapital dan modal ternyata telah berkolaborasi melahirkan era hegemoni baru. Apa era hegemoni baru itu? Mari kita berpikir sejenak, mulai dari bangun tidur hingga beranjak tidur lagi, kehidupan kita selalu dipenuhi dengan interaksi bersama smartphone. Pabrik-pabrik smartphone didunia ini merupakan produk dari kapitalisme. Perkawinan antara kapitalisme dan teknologi ini akhirnya melahirkan sebuah anak bernama informasi. Hampir setiap saat dan setiap waktu hidup kita selalu dipenuhi oleh informasi. Secara tidak sadar kita telah memasuki era hegemoni informasi. Kita hari ini dibentuk oleh informasi yang beredar di kehidupan. Smartphone hanyalah salah satu sarana karena pada dasarnya ada banyak sarana-sarana lain yang melahirkan era hegemoni informasi ini. Era hegemoni informasi ini adalah era dimana siapa yang menguasai informasi, memproduksi, mengatur, dan mengeluarkanya ke pasaran akan menjadi pihak yang begitu powerful karena masyarakat akan dapat dikendalikan.

Kemudian, menjadi pertanyaan, dimana posisi umat Islam dalam era baru ini? Sebagai produsen atau sebagai konsumen? Bagaimana aset tentang informasi yang dimiliki oleh umat Islam? Sebagai pemilik alat produksi informasi atau hanya, sekali lagi, konsumen? Tulisan ini tidak akan masuk ke dalam penelitian lebih dalam tentang data-data empiris untuk menjawab pertanyaan ini. Semoga ada pihak yang akan mau meneliti tentang ini ke depannya. Penulis hanya akan menjawab melalui pengamatan penulis selama ini. Ternyata, umat Islam adalah konsumen informasi, memang ada beberapa media yang dimiliki oleh umat Islam, namun kebanyakan media tersebut berada di Timur Tengah. Sedangkan, pada regional lain, sangat minim sekali.

Umat islam dalam posisinya sebagai konsumen informasi tentunya sangat berbahaya. Pertama, karena umat Islam akan dibentuk sedemikian rupa oleh informasi yang diterimanya. Padahal, informasi dan kiblat budaya saat ini banyak yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Hal tersebut tentu saja akan membentuk konstruksi kemasyarakatan umat yang jauh dari nilai-nilai keislaman. Kedua, posisi umat Islam yang sangat minim dalam kepemilikan media informasi tentu saja akan berakibat pada terbatasnya produksi informasi yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Lalu, bagaimana solusinya? Kemudian, siapa pihak yang dapat terlibat dalam pengimplementasian cita-cita umat Islam sebagai produsen informasi ini? Diskursus tentang solusi pada problematika ini tentu saja membutuhkan kajian yang lebih lanjut dan mendalam. Namun, penulis akan menawarkan beberapa solusi sederhana. Singkat saja, solusi jangka pendek adalah dengan menggencarkan dakwah dan pendidikan tentang bagaimana mencerna informasi kepada umat secara masif dan sistematis baik melalui dunia maya maupun dakwah dah sosialisasi langsung. Hal ini penting agar umat tidak dengan mudahnya menganggap setiap informasi yang beredar sebagai kebenaran dan bisa lebih cerdas dalam mengolah juga mengelola informasi. Jangka menengah bisa dilakukan melalui pembuatan forum-forum klarifikasi informasi. Forum ini akan bergerak memberikan klarifikasi kepada umat terhadap informasi yang berkembang. Apakah informasi yang beredar itu benar ataukah hoax dan apa agenda-agenda di balik berbagai informasi yang ada. Jangka panjang, tentu saja melalui kepemilikan aset – aset produksi informasi oleh umat, baik channel televisi dakwah, channel televisi gaya hidup islami, dan channel berita juga bebagai macam aset produksi infromasi lainnya.  Pada tahap jangka panjang ini, lembaga-lembaga islam besar seperti NU dan Muhammadiyah perlu berperan, terutama dalam penyiapan modal.

Era hegemoni informasi ini ternyata juga dibarengi oleh era kebangkitan kepemudaan umat Islam. Di berbagai daerah muncul gerakan-gerakan pemuda yang ”hijrah” menjadi pemuda islami. Gerakan ini kemudian melahirkan konstruksi kepemudaan baru dan konstruksi pemikiran baru. Islam dipandang oleh anak-anak muda ini sebagai solusi kehidupan dan menawarkan cara pemikiran dan gaya hidup yang dapat memuaskan dahaga anak- anak muda ini dalam menjalani kehidupan. Kebangkitan kepemudaan Islam ini tentu juga sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam menghadapi era hegemoni informasi ini. Anak muda tentu saja memiliki mobilitas tinggi, kemampuan produksi informasi (minimal melalui media sosial), dan semangat dakwah yang berada dalam puncak. Anak-anak muda ini tentu saja juga harus didayagunakan dalam upaya umat Islam untuk menghadapi era hegemoni infromasi ini.

Pada akhirnya, tentu saja kita semua berharap bahwa umat islam akan mampu memutarbalikan situasi. Situasi dari konsumen informasi menjadi produsen informasi. Situasi dari miskin aset produksi informasi menjadi kaya aset produksi informasi. Era hegemoni informasi memang berbahaya, namun di sisi lain, era ini juga menawarkan potensi untuk kebangkitan Islam melalui media informasi. Informasi yang berisi dakwah Islam, mulai dari gaya hidup hingga cara berpikir perlu untuk didistribusikan ke segala penjuru negeri. Era kebangkitan kepemudaan Islam juga harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Karena anak-anak muda selalu tahu cara untuk melakukan hal lama dengan cara baru. Era ini juga menawarkan potensi untuk mendistribusikan nilai-nilai islam yang rahmatan lil ‘alamin agar nilai-nilai islam juga dapat bermanfaat bagi masyarakat non-Muslim.

Bukankah Allah telah menyampaikan melalui ayat suci Al-Qur’an bahwa kejayaan (hegemoni) itu digilirkan dari bangsa satu ke bangsa yang lain. Umat islam pernah mencapai kejayaannya dulu, meskipun hari ini umat islam sedang berada pada masa keterpurukan, namun, bisa saja, era hegemoni informasi ini adalah era dimana kejayaan kembali umat islam akan dimulai. Mari berikhtiar semaksimal mungkin. Insyaallah.

 

 

Referensi:
Kurniawan, Heru. 2007. Relasi Formatif Hegemoni Gramsci dalam Novel Peburuan Karya Pramoedya Ananta Toer. Purwokerto: Jurnal Studi Islam dan Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *