Kesadaran Ilahiyat: Beribadah Hanya Pada-Nya Yang Esa

Oleh : Mochamad Ridha (Ilmu Komunikasi 2015, staf Departemen Syiar JMF, peserta Rumah Kepemimpinan regional Yogyakarta)

Membahas ilahiyat, pada dasarnya tidaklah berbeda dengan maksud dari uluhiyah. Hanya perbedaan bentuk bahasa. Ilahiyat adalah uluhiyah -bahasa Arab- yang telah di sadur ke dalam Bahasa Indonesia. Dalam pengertian maknanya sendiri, keyakinan ilahiyat atau tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya, dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Pada dasarnya, kalimat tahlil adalah bentuk simbol dari tauhid uluhiyah. Laa ilaha illallah, dengan ungkapan bahwasanya tiada tuhan yang patut disembah selain Allah.

Tauhid Uluhiyah juga adalah bentuk penegasan kita terhadap peribadatan. Kita sebagai insan yang merealisasikan konsekuensi dari tauhid uluhiyah tersebut haruslah menjadikan Allah hanya satu-satunya Tuhan yang harus kita sembah. Segala bentuk peribadatan disandarkan hanya untuk Allah SWT semata. Mulai seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Shalih bin Abdul Aziz menjelaskan, bahwa kata uluhiyah berasal dari alaha – ya’lahu – ilahah – uluhah yang memiliki makna ‘menyembah dengan disertai rasa cinta dan pengagungan’. Sehingga kata ta’alluh dapat diartikan sebagai penyembahan yang disertai dengan kecintaan dan pengagungan. Ini jika ditelaah dari kandungan makna secara etimologi.

_____________________
Secara terminologinya, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah berkata, “Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba, seperti dalam hal doa, istighotsah/memohon keselamatan, isti’adzah/meminta perlindungan, menyembelih, bernadzar, dan lain sebagainya. Itu semuanya wajib ditujukan oleh hamba kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dalam hal itu/ibadah dengan sesuatu apapun[1].

Kamilah al-Kiwari hafizhahallahu juga pernah berkata, “Makna tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah, dalam ketundukan dan ketaatan secara mutlak. Oleh sebab itu tidak diibadahi kecuali Allah semata dan tidak boleh dipersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun baik yang ada di bumi ataupun di langit. Tauhid tidak akan benar-benar terwujud selama tauhid uluhiyah belum menyertai tauhid rububiyah. Karena sesungguhnya hal ini -tauhid rububiyah, pen- tidaklah mencukupi. Orang-orang musyrik arab dahulu pun telah mengakui hal ini, tetapi ternyata hal itu belum memasukkan mereka ke dalam Islam. Hal itu dikarenakan mereka mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain yang tentu saja Allah tidak menurunkan keterangan atasnya sama sekali dan mereka pun mengangkat sesembahan-sesembahan lain bersama Allah…[2]

_____________________
Kembali membaca perjuangan para Nabi dan Rasul dalam penyebaran risalahNya, bisa kita ambil benang putih bahwa dari masing-masing misi yang mereka bawa ternyata ada kesamaan dari itu semua, yaitu menyeru kepada manusia untuk bertauhid uluhiyah. Bagaimana sekalian umat, menyembah dan beribadah hanya kepada Allah SWT dan tak ada lagi satupun mahluk yang dianggap “tuhan” oleh mereka dalam arti tak lagi disembah. Allah Ta’aala berfirman dalam surat Al Hajj ayat 62 dan surat Al Anbiya’ ayat 25 yang berbunyi:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Artinya : “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Hajj ayat 62)

 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Artinya : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (Al Anbiya’ ayat 25)

 

Allah Ta’aala telah banyak berfirman dalam Al Qur’an yang berkaitan dengan kayakinan ilahiyat -tauhid uluhiyah. Hal ini menandakan betapa pentingnya kita agar memahami benar-benar maskud dari keyakinan ilahiyat ini. Agar kita tidak tersesat dan mendapatkan Ridho Allah SWT.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”

 

Namun dewasa ini banyak sekali kita melihat bahwa telah banyak terjadi penyimpangan dari realisasi tauhid uluhiyah ini. Sebut saja diantaranya adalah ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Mereka disana datang untuk bisa melepaskan kesusahan yang sedang ia terima. Bahkan tak hanya sampai disana, mereka menyediakan sesajian-sesajian hingga tumbal termasuk nadzar. Mereka sampai melakukan demikian antara lain dan tidak untuk melepaskan diri dari kesusahan tersebut. Bukankah Allah telah mengatakan di surat Ummul Qur’an bahwasannya,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (Al Fatihah ayat 5)

Dalam ayat iyyaka na’bud, “hanya kepadaMu-lah kami beribadah” terdapat kandungan tauhid uluhiyah. Di ayat inilah dengan gamblang bahwa Allah menyampaikan bahwa satu-satunya penyembahan hanyalah pada Allah. Termasuk didalamnya permintaan tolong dan harapan memang benar-benar tulus karena Allah semata.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua. Wallahu A’lam Bishowwab.

 

Referensi:

[1] athfu al-Jana ad-Dani, hal. 56

[2] al-Mujalla fi Syarh al-Qowa’id al-Mutsla, hal. 32

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *