Oleh: Anggalih Bayu Muh. Kamim (Departemen Politik & Pemerintahan 2015, kepala biro Intelektual Muda Fisipol)

Agama merupakan pedoman bagi manusia dalam berperilaku dan beretika. Orang-orang yang beragama dianggap sebagai orang yang setidaknya memiliki akhlak perilaku yang baik meski memang hal ini tidak bisa digeneralisasikan. Agama memiliki fungsi sebagai kontrol sosial bagi kehidupan manusia. Namun pada saat ini, agama mengalami pergeseran fungsi. Nilai fungsi agama menjadi sebuah komoditas dan agama itu sendiri mengalami proses komodifikasi. Jika ditilik akar sejarahnya, kemunculan agama didahului oleh proses komodifikasi. Menurut hemat Habermas, agama ini memiliki fungsi utama sebagai kontrol individu. Agama memiliki kontrol pada norma dan etika manusia.  Implikasinya adalah agama membuat manusia menghasilkan sebuah delusi, kepercayaan terhadap sebuah makhluk atau roh. Roh tersebut dianggap sebagai “makhluk solutif” yang bisa menyelesaikan semua permasalahan yang ada di kehidupan manusia dan menimbulkan segregasi. Agama juga merupakan sebuah ritus bagi manusia (Bara, 2016)

(Sumber: commons.wikimedia.org)

Komodifikasi merupakan proses pertukaran nilai sosial. Komodifikasi juga merupakan proses menjual apa yang sekiranya bisa dijual bukan menjual apa yang seharusnya dijual. Menurut pemikiran Karl Marx, semua hal yang ada bisa menjadi sebuah komoditas. Komoditas merupakan nilai tukar dengan objek lain. Corak komoditas sama dengan corak sosial karena agama disini sebagai objek sosial. Nilai-nilai agama yang ada ditukar menjadi komoditas yang bisa dipertukar dan/atau diperjualbelikan. Proses komodifikasi sendiri itu memiliki 5 tahapan yaitu reproduksi, produksi, pertukaran, distribusi dan konsumsi. Kapitalisme secara masif melihat sesuatu hal yang bisa dipertukarkan. Pertukaran tidak selalu identik dengan uang. Uang hanya sebuah perantara dalam proses pertukaran. Salah satu contoh bentuk komodifikasi agama adalah jilbab. Dalam pandangan Islam, menutup aurat tidak identik dengan jilbab. Nilai atau ide mengenai menutup aurat akhirnya direproduksi dan ditukar oleh kapitalisme dengan industri jilbab. Kemudian terjadi produksi barang tersebut yang akhirnya sampai pada konsumsi. Bentuk-bentuk komodifikasi agama yang lain adalah sertifikasi halal, industri jilbab, komersialisasi dakwah, pelabelan ustadz, boneka-boneka pada saat Natal dsb. Proses komodifikasi harus diartikan secara luas dan terjadi pada hampir semua agama. Proses ini yang akhirnya memiliki dampak bahwa manusia butuh akan sebuah eksistensi. (Bara, 2016).

Penelitian Greg Fealy & Sally White tentang “Consuming Islam: Commodified Religion and Aspirational Pietism in Contemporary Indonesia” (2008), menyatakan bahwa istilah komodifikasi berasal dari commodity, yang antara lain berarti benda komersial atau objek perdagangan. Dengan begitu, komodifikasi Islam adalah komersialisasi Islam atau mengubah keimanan dan simbol-simbolnya menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mendapat keuntungan. Ia memandang ada tiga perdebatan mengenai komodifikasi Islam di Indonesia. Pertama, mereka yang melihatnya dari sisi ‘islamic consumption‟. Bagi kelompok ini konsumsi akan membawa pemaknaan baru agama pada kehidupan yang penuh dengan keimanan serta membantu menciptakan satu masyarakat yang lebih meyakini prinsip-prinsip ajaran Islam. Kedua, mereka yang melihat komodifikasi Islam sebagai bayang-bayang dari komersialisasi Islam. Proses tersebut telah mengarah pada penegasan perilaku luar Islam (Islam fisik), dibanding dengan penguatan intelektual dan spiritual Islam, yang memancarkan kedalaman keberimanan. Ketiga, kelompok yang khawatir dengan keadaan Indonesia yang secara natural beragam, toleran, memiliki perbedaan akan digantikan dengan budaya lain yang lebih ter-Arab-kan, puritan serta Islam yang radikal (Fealy & White, 2008).

Pemberian imbalan dalam aktivitas dakwah adalah bagian dari komodifikasi agama. Pemberian imbalan dalam aktivitas dakwah hal ini bisa terjadi karena motif sebuah pertukaran sosial atau bisa jadi merupakan sebuah komodifikasi agama, jika memandang dari sudut pandang komodifikasi terhadap agama hal ini seperti penelitian yang pernah dilakukan yaitu tentang Komersialisasi dakwah sebagai bentuk komodifikasi agama.  Bahwasanya ustadz atau ustadzah saat ini mengalami disfungsi peran dan menjadikan dakwah sebagai sebuah komoditas ekonomi, sedangkan jika fenomena pemberian imbalan ini dipandang dari sudut pandang pertukaran sosial, maka dapat dimaknai Pada masa lampau pemberian stimulus berupa imbalan kepada ustadz dalam aktivitas dakwah merupakan serangkaian stimulus yang terjadi dimasa kini, dan akan mendapatkan respon berupa relasi yang baik antara masyarakat yang memiliki hajat dalam sebuah acara keagamaan dengan ustadz yang mengisi dalam acara tersebut. Hal ini jika dilakukan terus menerus dimasa yang akan datang pemberian stimulus ini akan terus berlangsung dan penerimaan imbalan oleh ustadz ini merupaka juga bentuk stimulus dari sudut pandang ustadz, dimana masyarakat akan memandang baik dan memberi respon terus menerus berupa imbalan dalam setiap acara keagamaan lainnya (Fealy & White, 2008).

Ketika penerimaan imbalan oleh ustadz ini akan menghasilkan respon dan penghargaan berupa relasi yang baik, berarti pemberian imbalan dalam aktivitas dakwah ini bukanlah lagi suatu hal yang negatif dan akan bertolak belakang dengan hukun penarikan imbalan dalam aktivitas dakwah yang jelas dilarang oleh agama islam, justru akan mengandung nilai positif berupa motif ekonomi yang diperoleh oleh ustadz dan nilai positif bagi pemberi imbalan berupa relasi yang baik dan mungkin dapat diartikan sedekah baginya.

Fenomena ini telah menyebabkan agama berubah dari nilai publik ke nilai privat. Privatisasi yang dialami oleh agama telah menyebabkan agama kehilangan peran di tingkat publik. Agama menjadi sesuatu yang sangat privat. Ia telah kehilangan kekuatannya dalam mempengaruhi kehidupan-kehidupan publik. Semua fenomena ini, menurut Peter F. Beyer terjadi karena munculnya paham pluralisme dalam masyarakat modern (Beyer, 1997). Akibatnya, cara beragama masyarakat modern hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat ibadah individual dimana agama berperan hanya sebagai pemenuh kebutuhan spiritual belaka, tidak lagi kebutuhan sosial. Itu pun bersifat individual, bukan publik.

Agama diperdagangkan tak ubahnya sabun colek, obat gosok atau obat panu oleh para elit agama untuk mendulang keuntungan sebanyak-banyaknya. Dari situ agama dijadikan sebagai selubung penghisapan dan menjadi stempel pembenar kebejatan. Sedemikian, kritik Marx terhadap agama sebagaimana dalam “Critique on Hegel’s Philosophy of Right” yang menganggap agama sebagai candu tak bisa dianggap sebagai sepenuhnya keliru. Justru kritik Marx ini bisa membantu kaum beragama mampu beragama dengan kritis dan tanpa perlu menggadaikan akal sehatnya (Murtadho, 2016). Berikut kutipan lengkapnya:

“Penderitaan agama pada saat yang sama merupakan ekspresi pada penderitaan ekonomi yang riil dan protes melawan penderitaan yang riil. Agama adalah keluh kesah makhluk yang tertindas, hati dunia yang tak berhati, sebagaimana ia adalah roh dari suatu keadaan yang tak ber-roh. Ia adalah opium bagi masyarakat.”

Kalau kita cermati kalimat Marx di muka, sebenarnya ia simpatik terhadap agama ketika ia mengatakan agama sebagai sebentuk ‘protes melawan penderitaan yang riil’. Namun sayangnya, alih-alih sebagai jalan pembebasan, agama justru tak jauh beda dengan candu yang menghilangkan rasa sakit kaum tertindas dengan menciptakan fantasi mengenai suatu dunia supernatural dimana segala kepedihan dan kesedihan berakhir. Mereka, kaum elit agama, dengan bahasa yang terdengar kudus, bukannya menyerukan kaum beragama melawan penindasan, melainkan mengajak rakyat sabar menghadapi penindasan, pelecehan dan pemiskinan karena kelak kesabaran mereka menerima penindasan akan diganti oleh Allah dengan surga. Pada titik inilah Marx benar, agama tak ubahnya candu yang melenakan. Namun sebenarnya kritik Marx ini tak sepenuhnya benar, juga tak sepenuhnya keliru. Karena faktanya ada banyak bukti agama sebagai jalan pembebasan. Begitu juga sebaliknya. Ada banyak bukti agama yang dipakai sebagai selubung penindasan (Murtadho, 2016).

Komodifikasi agama ini juga pernah dikisahkan dilarang dalam Islam, dalam satu riwayat yang menjadi asbabun nuzul turunnya Surah Abasa’. Suatu hari seorang sahabat bernama Amr Ibn Qais datang menemui Nabi Muhammad SAW. Ia berbeda dari para sahabat yang lainnya. Ia seorang yang buta. Meskipun demikian, semangat dan keteguhannya dalam mencari kebenaran sangatlah besar. Kedatangan beliau kali ini adalah dalam rangka mencari ilmu dan hikmah yang bisa ia peroleh dari Nabi. Namun, yang terjadi adalah jauh panggang dari api. Ia menghampiri Nabi yang sedang berbincang-bincang dengan pembesar Quraisy. Berulang kali, ia mengatakan kepada Nabi, “Wahai Nabi Allah, berilah aku petunjuk, berilah aku pelajaran, tunjukilah aku tentang suatu hal yang bermanfaat” (Abrar, 2013).

Namun, sedikitpun Nabi tidak menghiraukannya. Malah, Nabi menampilkan raut wajah kekesalan terhadap perilaku sahabat tersebut. Nabi merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan sahabat tersebut. Sebab, pada saat yang sama Nabi sedang melakukan lobi kepada para pembesar Quraisy untuk masuk Islam. Dengan harapan, jika mereka para pemimpinnya telah masuk Islam, tentu akan lebih mudah mengajak kaumnya ke dalam agama yang mulia ini. Namun perilaku Nabi itu, tanpa ia sadari, merupakan suatu kekeliruan. Melihat hal tersebut, Allah SWT langsung menegur Nabi  dan mengingatkan, apa yang telah dilakukannya tersebut adalah hal yang salah. Perilaku Nabi yang mengacuhkan sahabat dengan alasan status dan kepentingan sahabat tersebut, kemudian Allah abadikan dalam Quran Surah Abasa ( [80]: 1-10). Ada beberapa hal penting yang dapat dijadikan pelajaran dari kisah ini.

Pertama, jangan sekali-kali kita merendahkan seseorang berdasarkan status dan keadaannya. Karena, semua manusia adalah sama dalam pandangan Allah. Hanya tingkatan takwa yang membedakan mereka satu dengan yang lainnya. Begitu juga sebaliknya, kita hendaknya jangan tertipu dengan keadaan zahir seseorang. Meskipun ia orang yang berkecukupan, bergelimang harta, jabatan, memiliki kedudukan terhormat, belum tentu orang tersebut bersedia diajak kerja sama demi kemaslahatan orang banyak. Kedua, semangat dan ketulusan merupakan standar utama untuk mendapatkan banyak petunjuk dan rahmat Allah. Bukan banyak atau sedikitnya harta yang kita miliki. Ketiga, kita semua mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dalam berdakwah dan mendapatkan pengajaran agama. Secara tidak langung ayat dan kisah di atas menjadi pengingat bagi kita. Dalam menyampaikan dakwah, hendaknya tidak terjadi tebang pilih. Karena, dakwah adalah kewajiban, bukan profesi (Abrar, 2013).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abrar, Arsyad,” Komersialisasi Dakwah,”( http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/08/30/dunia-islam/hikmah/13/08/30/msc8r2-komersialisasi-dakwah, diakses pada 2 November 2017).

Bara,” Komodifikasi Agama,”( https://www.berdikaribook.red/komodifikasi-agama, diakses pada 2 November 2017).

Beyer, Peter F. 1997.”Privatization and the Public Influence of Religion in Global Society” dalam Mike Featherstone (ed.), Global Culture: Nationalism, Globalization and Modernity. London: SAGE Publications.

Fealy, Greg & Sally White (eds). 2008. Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia, Singapore: ISEAS.

Murtadho, Roy,” Agama Sebagai Komoditas: Musibah Atau Berkah?”( https://indoprogress.com/2016/09/agama-sebagai-komoditas-musibah-atau-berkah/, diakses pada 2 November 2017).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *