Taati Pemimpin, Tapi Jangan Buta!

Oleh: Hijrauly Albebian (Ilmu Komunikasi 2014, Kepala Biro Intelektual Muda Fisipol JMF 1437 H)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puja dan puji hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Rabb alam semesta yang tak pernah istirahat mengawasi dan mengurusi seluruh makhluk-Nya. Kita menyembah dan meminta pertolongan. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada sang penutup para Nabi, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga kita termasuk dari pengikut yang akan memperoleh syafaat dari beliau kelak di hari akhir.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Yaa ayyuhalladziina aamanuu, athii’ullaha wa athii’ur-rasuula wa ulil-amri minkum billahi wal-yaumil aakhir, dzaalika khoiruw wa ahsanu ta’wiilaa.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa: 59)

 

Ada baiknya di tengah gontok-gontokan serta hiruk-pikuk urusan keduniaan kita ini, kita bertadabbur lebih banyak lagi kepada Al-Qur’an kita. Pedoman utama kita dalam berkehidupan. Apalagi jika kita sebenarnya ingin sekali mewujudkan perdamaian di hati kita masing-masing. Atau kalau setidaknya ingin terhindar dari kejahilan (kebodohan). Di antara kita barangkali ada yang pernah mendengar, bahwasannya “kerusakan serta pertikaian itu sebetulnya dimulai ketika orang-orang bodoh memulai perdebatan”. Ketika orang-orang yang tidak paham ilmunya berujar mengenai urusan umat, maka yang terjadi adalah chaos. Naudzubillaahi min dzaalik.

(Sumber gambar: www.muslim.or.id)

Masalah kepemimpinan adalah masalah yang klasik, bahkan ketika Rasulullah wafat, kita tahu bahwa yang diurus pertama kali adalah persoalan siapa yang akan menjadi pemimpin umat Islam selanjutnya? Rasulullah tidak pernah memberikan wasiat kepada keluarga atau para sahabat mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin kala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Seakan beliau memberitahu kepada umat muslim, bahwasanya urusan kepemimpinan umat selanjutnya adalah urusan bagi kaum muslimin, dan membiarkan kaum muslimin sendiri yang memutuskannya. Maka singkatnya, setelah pelbagai perdebatan, musyawarah memutuskan untuk mengangkat Abu Bakar As-Shiddiq sebagai penerus tongkat kepemimpinan. Dari riwayat tersebut kita belajar bahwasanya posisi pemimpin merupakan posisi vital bagi umat.

Kepemimpinan Abu Bakar As-Shidiq radhiyallahu ‘anhu menandai era Islam yang dipimpin oleh para khalifah yang empat. Zaman ini sering digunakan sebagian besar kaum muslimin sebagai rujukan model kepemimpinan yang paling baik. Bagaimana tidak? Pada zamannya, para pemimpin/khalifah tersebut adalah orang-orang yang paling dekat dengan Rasulullah, serta orang-orang yang faqih (paham) dan ‘alim (berilmu) dalam agama. Lagi, pemimpin pada saat itu juga tidak dipilih berdasarkan keturunan, akan tetapi lebih kepada kepantasan dan kelayakan. Semua khalifah ditunjuk lewat dewan khusus yang berisi para alim ulama (kecuali Umar yang diberi wasiat oleh Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu).

Masa kepemimpinan khulafaur rasyidin berakhir setelah Ali radhiyallahu ‘anhu wafat. Ia menjadi korban makar pembunuhan oleh para pembencinya. Khalifah khulafaur rasyidin yang wafat dibunuh tidak hanya Ali, melainkan juga Umar dan Utsman. Alasannya juga karena kebencian dan dendam tertentu karena kebijakan dan tindakan pada saat mereka memimpin. Padahal para pembunuh itu mungkin tahu betul bahwa para Amirul Mukminin itu adalah orang-orang terbaik pada zamannya. Sebaik apapun orang memimpin juga pasti akan ada yang tidak suka, apalagi yang tidak baik? Pasti pemboikotan dan pemberontakan lebih banyak terjadi.

Kembali kepada ayat di awal, setelah melihat sejarah dan kita ingat bahwasanya pemimpin menjadi sangat vital bagi umat dan pemimpin baik pun pasti ada yang membenci, maka mari kita lihat tafsir Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 59. Tafsir ini disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir. Ayat ini berbicara terutama tentang Ulil Amri (dalam alih bahasa Indonesia, maka secara harfiah diartikan sebagai “pemilik urusan”, lebih gampangnya “pemimpin”, karena di tangan pemimpinlah yang biasanya suatu urusan tertentu ditentukan). Juga tentang persoalan apabila terjadi perdebatan di antara umat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali, ia berkata:

Rasulullah mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan mereka. Tatkala mereka telah keluar, maka ia marah kepada pasukannya karena suatu urusan, ia kemudian berkata “Bukankah Rasulullah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?” Mereka menjawab: “Betul”. Dia berkata lagi: “Himpunlah bagiku kayu bakar!”. Kemudian dia membakar kayu tersebut dan berkata: “Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya (api)”. Maka seorang pemuda di antara mereka (pasukan) menganjurkan agar mereka menemui Rasulullah untuk menceritakan tentang hal tersebut. Rasulullah pun bersabda kepada mereka,

“Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada yang ma’ruf”. (Kitab Ash-Shahihain dari Hadits Al-A’masy)

Dalam riwayat lain yang lebih masyhur,

“Taatilah dia (pemimpin) dalam ketaatan kepada Allah, dan langgarlah dia dalam maksiat kepada Allah”

Demikian Rasulullah menasihati kita tentang urusan pemimpin. Ada hujjah yang diberikan Rasulullah, seandainya kita merasa bahwa ada sesuatu yang kurang tepat (membawa mudhorot) yang diperintahkan oleh seorang pemimpin, maka tidak ada dosa bagi kita jika kita tidak taat. Jangan buta! Tapi apakah hanya sampai di situ saja? Karena sebaiknya kita sadari, bahwa hal yang wajar bagi kita manusia untuk berlaku salah, tidak ada yang sempurna, termasuk juga pemimpin. Maka dari itu ada tuntunan lain yaitu untuk saling menasihati sesama – tentunya dengan mauidhoh hasanah (mengingatkan dengan baik).

Terakhir, sama dengan pemimpin yang tidak boleh buta kita mengikutinya maka tulisan ini pun juga tidak luput dari salah dan khilaf penulisnya. Karena kebenaran hanya milik Allah, dan kesalahan sering datang dari kebodohan manusia.

Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *